Kamis, 13 Agustus 2009

Jelajah Ayam Tulang Lunak Mbak Tari - Dinoyo


Sepeda motor selalu banyak berjejer adalah pemandangan tiap malam di warung yang satu ini. Ramai banget. Rata-rata anak mahasiswa yang membeli ayam goreng lunak di tempat ini. Maklum lingkungan kampus sih. Letaknya ada di daerah Dinoyo. Dari tandon PDAM ke barat sedikit, ada di kiri jalan kalau dari arah Malang ke Batu. Suasana tempatnya juga lumayan enak, walaupun terkesan apa adanya. Maklum warung bongkar pasang. Ada dua meja besar cukup untuk enam orang tiap meja dan hamparan tikar di pinggir meja. Jadi kita bisa lesehan atau di meja, tapi waktu Petamalang datang ke situ semua meja udah pada terisi.

Tempatnya lumayan luas dan suasananya rame banget waktu Petamalang masuk ke dalam warung. Tampak beberapa orang yang menunggu antrian baik itu yang dibungkus atau yang dimakan di situ. Harganya Rp.7000 untuk nasi+ayam lunak. Bisa digoreng atau dibakar. Tidak pakai nasi harga dikurangi Rp.1000, kalo pake kepala lebih murah lagi.

Ayam yang akan dimasak dipajang di etalase berukuran sedang. Kita bisa memilih potongan ayam mana yang kita suka. Kalau kami semua kompak pilih dada. Lebih besar dan mantap.
Empuk, bumbu meresap, dan pas banget di lidah adalah kesan pertama kami merasakan ayam ini. Rasa bumbunya terasa sampai tulang ayam. Wah...nikmat pokoknya. Sambalnya juga nendang banget. Pedas banget maksudnya. Nggak banyak campuran bumbu pada sambalnya. Sambalnya biasa saja, nggak istimewa banget. Hanya di ayamnya saja yang istimewa. Tapi justru di situlah kelebihannya, rasa sambal dan ayam jadi menyatu banget.

Selasa, 11 Agustus 2009

Rumah Makan Mojang Priangan - Prasmanan Khas Sunda


Alunan musik Sunda yang merdu terdengar enak di telinga serta kesan bersih dan tertata rapi kami rasakan saat pertama kali masuk rumah makan Mojang Priangan ini. Tempatnya tidak sulit untuk ditemukan. Berada di tengah kota tepatnya bersebelahan dengan Bank Syariah Mandiri atau berada di depan Telkom Basuki Rahmat agak ke timur atau bisa juga dibilang dekat gereja kota. Tepatnya ada di sebuah ruko dengan tulisan besar rumah makan "Mojang Priangan". Rumah makan Mojang Priangan adalah milik orang Sunda asli. Mulai pemilik, juru masak dan pelayannya semuanya orang Sunda. Jadi, bagi anda yang asli Sunda dan rindu kampung halaman, bisa langsung datang ke rumah makan ini. Dengan nuansa Sunda yang kental, pasti rasa rindu pada kampung halaman akan dapat terobati. Pertama kali masuk ke rumah makan Mojang Priangan, perhatian kami tertuju pada meja panjang tempat menyajikan aneka hidangan. Umumnya rumah makan prasmanan memang seperti ini. Semua lauk pauk disajikan dalam meja berukuran besar dan panjang untuk memudahkan kita memilih menu yang kita sukai. Penataan hidangan sungguh menggugah selera. Lilin-lilin dan bunga yang berada di atas meja membuat tampilan masakan tampak menggoda bagi siapa saja yang melihatnya. Masakan Sunda memang agak kurang cocok dengan lidah orang Jawa Timur. Itu anggapan kami sebelum mencoba masakan Sunda di rumah makan Mojang Priangan ini. Tetapi setelah kami mencobanya, ternyata anggapan itu salah. Masakan yang kami rasakan ternyata....mantap! Akhirnya kami jadi berfikir, buat lidah kami orang Jawa Timur aja terasa mantap, apalagi bagi orang Sunda? Lebih mantap kali ya....

Jumat, 07 Agustus 2009

Bakso Bakar Pak Man Jadi Ikon Kota Malang


Ia mengawali bisnis berjualan bakso sejak di Solo dan tahun 1965 ia bersama istrinya merantau ke Malang dan langsung berjualan di kawasan SMAN 2, namun masih dalam kondisi apa adanya dan bumbu-bumbu yang juga apa adanya, karena saat ini kondisi negara benar-benar susah.

Pak Man yang kini sudah memiliki 9 orang cucu itu, pada tahun 1965 sama sekali tak menemui hambatan apalagi pesaing, sebab pada saat itu Pak Man adalah satu-satunya penjual bakso di Malang.

Tahun demi tahun usaha penjualan bakso yang digelutinya banyak ditiru oleh warga Malang dan jadilah Pak Man sebagai "guru" sekaligus sumber dari cikal bakal bakso, mulai dari bakso halus, bakso kasar, bakso urat hingga bakso jamur yang saat ini juga mulai meramaikan wisata kuliner di Malang Raya.

Hampir semua penjual bakso di Malang ini, katanya, awalnya berguru padanya, namun dirinya sama sekali tidak menjual resep dan siapapun yang ingin `ngangsu kaweruh` (mencari pengetahuan) tidak di batasi.

Awal mula bakso bakar yang dijualnya itu berawal dari bakso-bakso yang jatuh ke tanah ketika melayani pembeli, namun tidak diambil dan pada saat menjelang tutup, bakso-bakso yang jatuh itu dibakar bersama sampah yang berserakan.

Akan tetapi, tanpa diduga bakso yang terbakar itu menimbulkan aroma yang begitu nikmat sehingga pada saat itu juga muncul inisiatif untuk menjual bakso bakar dan kebetulan pada hari itu ada kunjungan Presiden Habibie ke PBM.

"Itulah awal mula kenapa ada bakso bakar, tapi saya juga tidak berhenti disitu saja, saya mencoba mengolahnya dengan berbagai bumbu dan aneka rasa. Ternyata bakso bakar ini terus berkembang dan berkembang yang akhirnya membuka stand lagi di kawasan Jln. Diponegoro ini," katanya menjelaskan.

Untuk melayani pelanggan termasuk dari luar Kota Malang, Pak Man tidak mempekerjakan orang dari luar, tetapi mengajak sanak saudaranya untuk mengembangkan bisnis bakso bakar yang sekarang sudah merambah dan menjadi ikon Malang.

Kebutuhan daging sapi untuk dua stand yang dimilikinya itu, Pak Man cukup menghabiskan sekitar 27 kg sampai 30 kg per hari baik untuk bakso yang dibakar maupun asli (tidak dibakar) serta tahu sebagai kombinasi dan setiap biji bakso bakar dijual seharga Rp1.500/biji sedangkan tahu Rp1000/biji.

Kedua stand bakso bakar Pak Man yang berlokasi di kawasan SMAN 2 Malang dan di kawasan Jln. Diponegoro Kota Malang mudah dijangkau baik dengan kendaraan umum maupun pribadi, karena berada di jantung kota.